Showing posts with label Digital Business. Show all posts
Showing posts with label Digital Business. Show all posts

Tuesday, February 5, 2019

BEKRAF FESTIVAL: Festival Kinerja Badan Ekonomi Kreatif

Jakarta, 29/10/18 – Festival Kinerja merupakan ajang bagi Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (BEKRAF) untuk menyampaikan hasil capaian kinerjanya kepada masyarakat luas dalam membentuk ekosistem ekonomi kreatif (ekraf) dan juga sebagai bentuk dukungan serta apresiasi kepada pelaku ekraf yang telah ikut berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi Indonesia.


 


Tahun ini BEKRAF menggelar kembali BEKRAF Festival pada 15-17 November 2018 yang akan datang berlokasi di Grand City Surabaya, Jawa Timur. Sebelumnya, BEKRAF Festival 2017 telah sukses digelar di PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan Creative Hub, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan jumlah kunjungan mencapai 33.900 orang.


Baca juga: Bekraf Dukung Pertumbuhan Ekosistem Start-Up Indonesia Melalui BE-X


“BEKRAF Festival diharapkan dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap potensial ekraf yang dimiliki. Acara ini bisa memberikan gambaran apa saja yang telah dilakukan BEKRAF dalam mewujudkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif dunia ke depan,” ungkap Kepala BEKRAF, Triawan Munaf saat konferensi pers BEKRAF Festival 2018 di Kantorkuu Coworking & Office Space (Agro Plaza), Senin (29/10).



BEKRAF menyajikan capaian kinerja secara menarik dan terukur melalui data riset yang telah dilakukan selama ini. Memasuki tahun keempat, BEKRAF tetap konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga bertanggungjawab memajukan ekraf Tanah Air.


 


Program-program pengemban kapasitas yang disinergikan dengan nomenklatur enam kedeputian, BEKRAF berupaya melibatkan pelaku ekraf secara langsung. Melalui program tersebut diharapkan dampak dari program kerja dapat langsung dirasakan.


 


Beberapa site menarik akan hadir pada BEKRAF Festival, diantaranya adalah IKKON, Kreatifood, BIIMA, Hello Dangdut, Deureuham, Coding Mum, ORBIT, BISMA, FoodStartUpIndo, CREATE, Retas dan Kreatiorial, Archipelageek, Akatara, Docs by The Sea, Identities, Pameran Ekraf Produk Lokal, WCCE dan masih banyak lagi.


 


Festival ini juga akan mengekspose 45 program dari seluruh Kedeputian BEKRAF yang terbagi dalam empat konsep acara utama yaitu gelar wicara (talkshow),lokakarya (workshop), pertunjukan (performance), dan pameran (exhibition). Kegiatan-kegiatan tersebut terbagi dalam berbagai area, seperti mainstage, ruang serbaguna besar dan kecil, area movie/talkshow, ruang meeting dan Oktagon. BEKRAF Festival juga dalam proses perencanaannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dalam hal ini Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia.


 


Acara ini memiliki konsep pelaksanaan dengan keliling di beberapa kota Indonesia. Penentuan tempat pelaksanaan BEKRAF Festival ini sebagai bentuk penghargaan kepada daerah yang mendukung sepenuhnya kemajuan ekonomi. Hal ini menjadi salah satu alasan Kota Surabaya terpilih menjadi tempat pelaksanaan BEKRAF Festival 2018. Berdasarkan hasil survey ekonomi 2016 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Kota Surabaya memiliki jumlah usaha ekonomi kreatif dengan jaringan usaha tunggal terbesar di Indonesia dengan persentase 6,41%. Selain itu, dari 99 kota di Indonesia menunjukkan bahwa Surabaya menduduki urutan teratas dari lima besar kota dengan potensi usaha/perusahaan ekonomi kreatif.


 


“Dengan diselenggarakannya BEKRAF Festival di Kota Surabaya, kami berharap masyarakat dapat lebih paham dan peduli terhadap perkembangan ekonomi kreatif di daerahnya dan terus konsisten dalam berkontribusi memajukan ekonomi kreatif di Indonesia. BEKRAF juga berharap, penyelenggaraan BEKRAF Festival 2018 akan membawa dampak positif bagi ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia, akademisi, sektor bisnis, pemangku kepentingan ekonomi kreatif dan masyarakat luas bahkan menyentuh level pelajar dan mahasiswa.”  Tutup Triawan.


The post BEKRAF FESTIVAL: Festival Kinerja Badan Ekonomi Kreatif appeared first on Digital Entrepreneur Indonesia.

Mohan Hazian, Sosok dibalik Brand anak muda Thanksinsomnia

Thanksinsomnia, sebuah brand asal Indonesia yang bergerak dalam industri fashion yg dijalankan oleh seorang pria berusia 27 Tahun bernama Mohan Hazian. Mulai berjalan dari tahun 2011 hingga eksis sampai sekarang, mungkin banyak dari kita yang belum tahu bahwa Thanksinsomnia pada tahun 2011-2012 hadir hanya sebagai sebuah vendor. Barulah ketika memasuki tahun 2013 Thanksinsomnia mulai untuk memproduksi produknya sendiri dan benar-benar aktif sebagai sebuah brand. Berikut merupakan sesi QnA yang dilakukan oleh tim Digital Entrepreneur.ID dengan Mohan Hazian di office sekaligus store dari Thanksinsomnia di Jln. Angsana Raya Sektor 1.1 A 1/6 RT 005/RW 01 Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan


 


Q: ASAL USUL NAMA THANKSINSOMNIA?


Gua bikin Twitter Bot namanya Thankinsomnia, jadi ketika mengetik insomnia itu keluar. Itu akun iseng sih, tapi setelah gua coba-coba cari merek itu jauh sebelum 2011. Kenapa nggak nama ini aja sih? Bagus. Tapi nggak ada hubungan sama penyakit insomnia, begadang, terus karena gua begadang gua bikin sesuatu yang bisa dijual, nggak. Bukan karena namanya insomnia terus gua insomnia”


Logo dari Thanksinsomnia


Q: HAL APA YANG BISA MEMBUAT THANKSINSOMNIA MENJADI BESAR?


“Sejauh ini sih gua bikin produk, gambar, itu sih ya gua nggak bisa ngebayangin sampai segede ini. Gede atau kecil kan itu relatif, tergantung orang gitu. Gua tuh dari dulu, sampe sekarang itu bikin sesuatu yang mungkin bisa diterima di masyarakat, bisa gua jual, dan gua juga nggak mikirin gimana nih caranya bisa jadi gede. Gua cuma berkarya, terus bisa diterima masyarakat, dan gua ngehasilin sesuatu, orang-orang terdekat gua bisa dapet impact positif dari apa yang gua buat.”


 


 Q: SEBERAPA BESAR PENGARUH INSTAGRAM UNTUK THANKINSOMNIA?


“Bukan hanya instagram aja sih ya, tapi sosial media lainnya apapun itu seperti Facebook. Jadi semuanya sih sangat berpengaruh di dunia digital sekarang ini. Ketika sebuah sosial media ngebantu campaign atau marketing itu bagus, ya itu sangat-sangat diperlukan. Apalagi apabila dagangnya hanya online saja yang nggak punya offline store atau toko fisik”.


 


Q: SUDAH BERJALAN SEJAK 2011, APA HAMBATAN TERBESAR YANG PERNAH DIHADAPI?


“ada beberapa hambatan yang besar untuk yang mau bisnis kayak gua ataupun yang gua rasain adalah kurangnya saling dukung antara sesama pedagang, lebih mentingin egonya dan nggak mau saling support”



 


 Q: APA PLANNING UNTUK THANKSINSOMNIA KEDEPANNYA?


Rencana yang paling dekat adalah kita mau buka store. Jadi yang pengen dateng langsung, terus pengen hand-feeling. Ada beberapa orang yang masih pengen ngerasain dateng langsung, untuk liat langsung produknya, untuk langsung coba produknya. Kalau beli online kan banyak kendalanya juga. Rencananya kita akan buka toko, tokonya juga masih di daerah BSD ini juga, karena yang kemarin kan udah tutup.


 


Q: DI INDONESIA, THANKSINSOMNIA SUDAH CUKUP POPULER. APA ADA NIATAN UNTUK EXPAND KE LUAR NEGERI?


“Kalau itu sih, dari beberapa website luar udah ada mengajak untuk distribusi ke mereka cuman kita memang untuk produksi barangnya sendiri juga belum terlalu banyak jadi kita masih coba untuk memuaskan pasar lokal dulu”.



 


Q: PESAN UNTUK PARA ENTREPRENEUR


“ketika lo menyukai sesuatu hal terus itu bisa menghasilkan, itu akan jauh lebih menyenangkan. Jadi ketika lo suka makanan ya lo coba untuk jual makanan, dan ketika clothing itu passion lo di situ ya kenapa enggak? Tetapi jangan memaksakan ketika lo melihat seseorang baik di bidang itu, terus lo pengen coba di bidang itu padahal lo nggak suka di bidang itu, jangan maksain. ”


           


Semoga hal ini bisa menjadi inspirasi bagi para entrepreneur untuk tetap semangat dan mengembangkan usaha yang sedang dijalankan. Sebuah umur bukan menjadi halangan dan hambatan untuk bisa sukses dalam sebuah usaha, salah satu bukti nyata tentu adanya sosok Mohan Hazian dengan Thankinsomnia-nya di Indonesia yang sudah sukses di industri fashion/clothing saat ini. Let our dream still alive untill we reach it!


The post Mohan Hazian, Sosok dibalik Brand anak muda Thanksinsomnia appeared first on Digital Entrepreneur Indonesia.

Mandaka, Menghias jadi Bisnis

Tisa Anindita Diandra Putri, pemilik brand lokal bernama “Mandaka”. Mandaka merupakan salah satu produk fashionformal dressyang cukup dikenal banyak orang, khususnya bagi para pengguna instagram.


Q: Bagaimana awal mula keinginan didirikannya Mandaka?


Mandaka hadir dari ketertarikan Tisa untuk menjahit dress keinginannya. Namun, kendala Tisa untuk menjahit, akhirnya ia memutusukan untuk mengulik hashtags di Instagram. Pencarian Tisa jatuh pada penjahit di Solo, yang mana menurutnya dapat menjahit dress keinginannya.


Desain yang detail, memiliki payet, dan cukup rumit itu yang diinginkan Tisa. Maka, ketika dress-nya sampai “Aku suka…Suka banget malah”, kata Tisa yang sambil bercerita awal Mandaka.


Dari situlah Tisa berinisiatif ingin membuat bisnis fashion dress dengan desain seperti miliknya. Kemudian, ia mengajak seorang temannya untuk memulai bisnis dress ini. Tetapi, karena adanya perbedaan pemikiran, bisnis bersama temannya tidak berlangsung lama.


Tisa pun memutuskan untuk melanjutkan kembali bisnis fashion dress sendiri. Dari berbagai saran orang tua, teman, dan kerabat lainnya, serta ditambah rasa percaya diri, tepat tanggal 26 Desember 2016, Mandaka hadir di Instagram.



Q: Apa ada arti tersendiri dari kata Mandaka?


Nama Mandaka pun dipilih oleh Tisa karena sesuai dengan artinya menghias. Mandaka juga dipilihnya karena belum ada yang menggunakan serta nama yang diyakini Tisa akan membawa keberuntungan. Tisa juga menambahkan “Menciptakan suatu brand atau apapun itu, nama memiliki pengaruh pada sesuatu hal”.


Q: Apa tantangan dari menjalankan bisnis sendiri?


Tantangan untuk Tisa adalah cara menangani banyak hal, mulai dari mencari bahan, pengemasan, dan desain yang konsisten merupakan jadi hal utama karena membutuhkan waktu dan energi. Tetapi, lika-liku dalam menjalankan bisnis ini tidak membuat Tisa berhenti dan menjadi malas-malasan. Hal ini kemudian tantangan Tisa yang harus dikalahkan.


Q: Mengapa memutuskan untuk menggunakan Instagram?


Penggunaan tool Instagram juga dipilih Tisa karena sesuai dengan target market dari Mandaka. Selain itu, fitur-fitur yang diberikan dari Instagram Business sangat membantu Tisa dalam mempromosikan brand-nya. Kemudian fitur “insights” di Instagram ini juga membantu Tisa untuk mengetahui perkembangan bisnisnya.


Sesuai dengan perkembangan di dunia Instagram, sistem endorsement pun jadi salah satu yang digunakan Tisa. Sistem ini juga meningkatkan jumlah pengikut serta brand awareness untuk Mandaka.


Q: Apakah ada kata-kata atau pesan yang ingin disampaikan Kak Tisa?


Pada akhir wawancara dengan Tisa, ia menambahkan “Gak selamanya kita berada di posisi atas, ada kalanya kita harus merasakan posisi yang kita tidak inginkan”, tutup Tisa.


The post Mandaka, Menghias jadi Bisnis appeared first on Digital Entrepreneur Indonesia.

Kanva: Produk dari Rumah untuk Rumah

Andi Kurniaty Mangga Barani yang diakrab dengan panggilan Nuny adalah salah satu pemilik Instagram Business, Kanva. Nuny, seorang ibu rumah tangga dengan kesibukan mengurus dua orang anak dan keinginan untuk tetap berkarya.  Nuny pun mulai mencari hobi atau kesukaan pada dirinya.


 


Q: Bagaimana awal mula Kanva dibuat?


Kanva sudah berjalan sejak tahun 2015 yang fokus pada produk home décor. Pada awal bisnisnya Kanva mencoba mencari apa yang banyak diminati orang dan kemudian mulailah dengan custom produk. Setelah itu, Kanva berkmebang dengan memproduksi wall décor, seperti frame, dan kanvas print dengan berbagai quotes.


 


Q: Media apa yang digunakan Kanva untuk menjual hasil produksi?


Media awal yang digunakan untuk mem-publishpostingan oleh Kanva ialah Instagram. Mulai dari sana Kanva terus berkembang, peminat pun terus meningkat. Akhirnya, Kanva pun mulai menginvestasikan ke web store.


Setelah menggunakan di web store,Kanva menghadirkan jenis-jenis produk baru. Karpet, tempat perhiasan, dan bantal menjadi produk yang dikembangkan. Tetapi Kanva tetap fokus pada produk utamanya yaitu home décor.


“Jadi, saya berusaha menyeimbangkan untuk tetap mengurusi anak dan mengembangkan passion” kata Nuny seroang ibu dan pebisnis.


 


Q: Apa motivasi lain dari Nuny selain memiliki passion untuk berbisnis?


Motivasi lain dari Nuny untuk tetap berkarya adalah visi dan misi sendiri dari Kanva. Visi dan misi Kanva adalah ingin semua rumah memiliki produk Kanva, baik itu yang customatau produk siap jual. Selain itu produk Kanva ini ingin dilihat dan memiliki “sense of home”, karena produk Kanva dimulai dari rumah.


 


Q: Apakah Kanva melakukan produksi sendiri?


Kanva melakukan partnership dengan beberapa vendor dan craftmanshipyang memang dimulai dari bahan mentah. Hal ini sesuai dengan tujuan Kanva sendiri karena ingin dikenal dengan brand lokal. Karena persaingan home décor sendiri bersaing dengan pasar luar, yang memiliki harga lebih murah dibandingkan Kanva dan memilki store-store besar.


Namun, dengan persaingan itu justru membuat Kanva untuk tetap konsisten dan sesuai dengan idealisme dari Kanva.


“Ingin mengembangkan produk lokal dengan kualitas yang bagus dan mampu bersaing dengan produk luar, serta memberdayakan pengrajin dalam negeri, yang mana hal ini juga akan membantu meningkatkan ekonomi dalam negeri”, kata Nuny.


Kanva


Baca juga: Mohan Hazian, Sosok dibalik Brand anak muda Thanksinsomnia


Q: Apakah Nuny pernah memiliki ekspektasi untuk mengembangkan Kanva lebih besar?


Memulai sebuah usaha pasti punya keingingan untuk membesarkan usahanya.


Struggle in the middle, startpunya usaha sendiri pasti upsand downs-nya banyak, tapi dari situ kita perlu fightingsama sendiri”, tambah Nuny saat diwawancara.


Nuny pun menambahkan, mengurus anak dan rumah tangganya juga menjadi salah satu kesibukannya selain berbisnis. Maka, berbagi waktu antara keluarga dan bisnis sangat penting.


Mengurus keluarga juga bukan menjadi hambatan Nuny untuk berkarya dan berbisnis. Keinginan Nuny dan Kanvanya untuk dijadikan hadiah, dekorasi rumah, dekorasi kantor, bahkan hotel yang dapat menciptakan suasana feels like homedan cantik.


 


Q: Apa hambatan yang pernah dialami oleh Kanva?


Bagi Nuny hambatan yang dirasakan brandnya selama berjalan 3 tahun ini, ialah mencari resource yang sesuai dengan visi dan misi Kanva. Terkadang ada yang sudah memiliki passion tapi tidak sesuai dengan visi dan misi.


Kemudian, penjualan juga menjadi salah satu hambatannya. Karena menurutnya pada bisnis online, khususnya penjualan bisa saja tidak terjadi dalam waktu satu hari bahkan satu minggu. Hal seperti inilah yang menuntut nuny untuk memutar otak agar bisa tetap terus berjalan, konsisten, dan tidak menyerah begitu saja.


 


Q: Apa keunggulan Kanva dibandingkan dengan produk lainnya?


 Dibalik hambatan-hambatannya, Kanva juga tetap memiliki keunggulan. Seperti produk yang dapat di-custom sesuai pesanan, kuantitas yang tidak dibatasi, bahkan memproduksi produk yang tidak akan dimiliki oleh orang lain menjadi keunggulan yang ditawarkan Kanva.


Selain itu, Kanva juga dapat membantu konsumennya untuk mendesainkan produk sesuai keinginan. Hal ini juga menjadikan Kanva menjadi bisnis yang dinamis tetapi tetap fokus pada home décor. Sehingga kepuasan konsumen dapat menjadii kunci Kanva untuk menjadi pilihan kembali dari konsumennya.


 


Q: Bagaimana Nuny melihat media sosial Instagram dengan bisnisnya?


Followers pada sebuah akun bisnis juga menjadi salah satu perhatian. Hal ini karena dapat menentukan apakah bisnis yang dijalankan tersebut kredibilitas atau tidak, followers nya apakah dibeli atau memang sesungguhnya.


Memperhatikan feeddari instagram juga menjadi salah satu faktor untuk menentukan keputusan pembelian. Selain itu juga, customer service, kualitas produk, dan hal-hal lainnya juga menjadi perhatian Kanva untuk mengelola media Instagram.


Berbicara soal feed pada Instagram, Kanva memiliki pengelolaan yang baik. Nuny juga mengatakan untuk menciptakan sebuah feed yang menarik, kembali lagi pada brand identity sebuah produk. Seperti halnya Kanva, ia memilih tema yang minimalis, clean, dan white. Hal ini yang diusahakan Kanva agar tetap konsisten pada feed instagram bagaimana pun jenis produknya.


 


Q: Adakah rencana Kanva untuk mengekspansi bisnisnya ke internasional?


 Keinginan Kanva untuk mencapai internasional tentu menjadi salah satu harapannya. Tetapi, Nuny mengatakan bahwa perlu persiapan yang benar-benar matang untuk menuju tahap internasional. Selain itu, alasannya untuk menunda sementara waktu melebarkan bisnisnya, Kanva sedang fokus pada proses new line of product yang akan diluncurkan pada tahun depan.


 


Q: Bagaimana perbandingan penjualan antara Instagram dengan web store?


Karena bisnis Kanva merupakan one-on-onecustomer, jadi lebih banyak menggunakan Instagram, khususnya custom product. Sedangkan untuk barang ready stockjuga, beberapa konsumen langsung menggunakan web store.


 


Q: Apakah ada pesan atau motivasi buat teman-teman entrepreneur lainnya?


Lakukan eksekusi pada ide-ide bisnis yang sudah ada. Kemudian lakukan briefpada ide bisnis dan lakukan trial error. Kemudian, selalu up-to-datepada tren pasar bisnis anda dan tetap fokus pada visi misi utama, brand identitypada brandanda. Keep goingpada bisnis anda yangstuckdan mencoba mendengar keinginan dari konsumen anda. Hal ini menurut Nuny juga akan memberikan inovasi-inovasi pada produk bisnis.


The post Kanva: Produk dari Rumah untuk Rumah appeared first on Digital Entrepreneur Indonesia.

Berawal Dari Angan-Angan, Brand Bernama Rafheoo Lahir

Berusia 17 tahun ketika mulai merintis sebuah usaha, dan kini hampir memasuki 8 tahun usia usahanya yang dinamakan Rafheoo. Hendi Putra Dermawan bersama 4 sahabat SMA-nya bersama-sama membuat sebuah brand tas yang kita kenal sekarang dengan nama Rafheoo. Memulai sebuah usaha yang benar-benar berawal dari titik 0, hingga menjadi sebesar dan sepopuler sekarang, Rafheoo sudah memiliki store sendiri bahkan sudah memproduksi bahan bakunya sendiri. Lebih dari itu, Rafheoo sudah memasuki pasar luar negeri tepatnya di negara tetangga yakni, Singapura. Tim Digital Entrepreneur.ID berkesempatan bertemu dan melakukan interview session dengan salah satu Founder dari Rafheoo yaitu Hendi Putra Dermawan di Rafheoo Store (Jln. Cereme, RT.8/RW.3, Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan, DKI Jakarta). Berikut hasil QnA tim Digital Entrepreneur.ID dengan Hendi Putra Dermawan yang mengulas lebih jauh tentang Rafheoo.



Short Story About Rafheoo?


“Cerita singkatnya sih waktu itu tahun 2011, lebih tepatnya bulan Maret. Cuma idenya itu keluar di 2010 akhir. Waktu itu saya baru kuliah 3 bulan, jadi saat itu saya masih berusia 17, terus saya ikut sebuah event, datang gitu namanya Wall of Ages pecinta denim dan brand lokal gitu. Saya dateng ke event tersebut dan banyak banget pengusaha-pengusaha muda yang bergerak di industri fashion kaya gini. Suatu saat tuh saya tertarik banget bikin  kaya gini, bikin sesuatu hal yang sama dan kebetulan saat itu saya suka banget sama travelling, suka backpacking ke beberapa daerah di Indonesia. Akhirnya saya memilih untuk memproduksi tas waktu itu dan akhirnya kenapa dinamain Rafheoo itu sebenernya singkatan dari nama-nama Foundernya.”


So, Rafheoo Didirikan Oleh Beberapa Orang?


“Iya, dulu 5 orang. Cuma seiring berjalannya waktu tinggal bertiga sekarang. Dari 5 nama itu, jadi lah nama Rafheoo. Singkatan nama saja, karena dulu bingung mau kasih nama apa. Jadi yasudahlah, dari singkatan nama saja dan jadilah nama Rafheoo.”


Baca Juga: Mandaka, Menghias jadi Bisnis


Apa Motivasi Lain Memilih Bisnis Ini? Di Luar Faktor Karena Suka Dengan Travelling Dan Backpacking.


“2011 kebetulan saya bikin brand ini hanya untuk ngejalanin passion. Saya belum berpikir kalau ini besar seperti sekarang dan bisa menghidupi saya. jadi nggak expect gitu lah, setelah 2 tahun berbisnis ngeliat omzet yang terus berkembang juga, saya mutusin dengan partner saya kayaknya ini harus kita seriusin. Akhirnya memang benar-benar tuh 2013 kita ekspansi. Ekspansinya ke produksi, karena menurut saya problem brand lokal itu di produksi. Karena pasti bermasalah dengan kualitas, dengan mininum order, dan timeline juga menjadi masalah. Akhirnya saya memutuskan untuk produksi sendiri. saya cari penjahitnya, saya hire kepala produksi penjahit mau bergabung dengan kita, dan berkembang sampai sekarang. Dan terus sampai di 2015, saya memilih untuk ekspansi lagi untuk memproduksi kain. Untuk kain canvas di sini ini sudah produksi sendiri in house.”


 


Tidak Expect Jika Rafheoo Akan Menjadi Besar Seperti Sekarang. Lalu Menurut Anda Apa Yang Bisa Membuat Rafheoo Besar Seperti Sekarang Ini?


“Menurut saya sih, setiap usaha pasti bisa mempunyai omzet yang besar. Asal memang si Founder atau Ownernya itu konsisten sama apa yang dia lakuin dan terus berinovasi. Jadi kebetulan saya berbeda dengan orang lain. 8 tahun berjalannya ini, banyak brand fokus gimana ngebranding si brand nya itu untuk terus dikenal banyak orang. Ini tuh bagus, tetapi perbedaanya saya sama orang lain itu saya selama beberapa tahun ini mencari sampai titik 0 bagaimana saya bisa memproduksi semurah mungkin sebuah produk tas. Jadi saya sampai buka jahitannya sendiri, saya buka pabrik kainnya, dan mungkin saya dari segi harga bisa motong cost sampai 3 kali lipat dari orang-orang lain.”


 


Penggunaan Sosial Media Sudah Sangat Amat Massive Pada Era Sekarang Ini. Kemudian, Pentingkah Instagram Untuk Rafheoo?


“Jujur, sekarang instagram itu merupakan ujung tombak dari kegiatan marketing Rafheoo. Menurut saya belum ada lagi sosial media lain yang mungkin sekuat instagram. Kalau dulu pertama kali saya bikin Rafheoo itu ujung tombaknya ada di Kaskus sama di Facebook. Cuma sekarang menurun, dan akhirnya pindah ke instagram karena simple dan mobile. Semua orang itu gunain instagram, jadi instagram bagi saya itu saat ini strong point untuk jualan buat Rafheoo.”


 


Tips Mengelola Feeds Di Instagram Rafheoo?


“Sebenarnya kalau untuk feeds sendiri itu tergantung taste dari si founder brand nya itu sendiri sih. Jadi ibaratnya kan instagram itu merupakan portofolio dari brand kita, gimana kita memperkenalkan kaya gimana, dan jualannya tuh foto wajib banget bagus. Menurut saya yang ngarahin itu harus punya sense of art nya, supaya itu keliatan menarik. Kalau tidak menarik, walaupun harganya murah parah juga nggak akan ada yang mau beli. Bahkan ada orang yang memang jago banget jualan, menurut saya produknya sangat biasa banget dan bisa jual itu gila harganya, dan itu banyak terjadi.”


 


Sesuatu Hal Yang Ingin Rafheoo Tunjukan Kepada Masyarakat?


“Rafheoo ini sebenarnya saya pengen jadikan tas yang benar-benar jadi teman sehari-hari. Jadi dia sebuah tas casual yang siapapun bisa pakai, dari segala umur dan dari segala segmentasi. Jadi saya tidak ingin membatasi, tas Rafheoo ini buat laki-laki, tas Rafheoo ini buat cewek, atau buat orang tua atau anak muda. Saya nggak membatasi itu, jadi saya sih tujuannya Rafheoo ini bisa dipakai semua orang.”



Sudah Berjalan Hampir 8 Tahun Lamanya, Apa Hambatan Yang Rafheo


Temui Selama Ini?


“Hambatannya itu ketika melakukan research. Karena memang kebetulan saya ini suka banget ngulik. Terutama material tasnya, itu saya suka banget ngulik sampai ke titik 0. Ketika saya lagi ngulik itu, dari segi finansial butuh untuk backup ya. Terkadang hasil dari keuntungan itu harus kita relakan untuk pengembangan daripada untuk kita makan sendiri. jadi Rafheoo itu udah bener-bener sampai ke titik hulu sampai paling akhir. Jadi kita udah ngerti sampai titik dari benang sampai produk jadi. Beda dengan brand lain yang mereka banyak yang hanya bisa desain, dia produksi ngerti, oke sudah jadi. Kalau saya bikin produk tidak sesimple itu, saya mau bikin produk A, saya pikirin kainnya harus pakai apa. Terus mungkin kalau orang lain yasudahlah kita cari di supplier-supplier, di toko-toko sebagaimacamnya, ini cocok nih. Saya tidak mau seperti itu, saya mau dari sampai benangnya entah katun, viscose, atau TC dan jenis-jenis benang lainnya. Terus jenis pewarnaannya, fat dying, natural dying, saya sampai se-complicated itulah.”


Baca Juga: Kanva: Produk dari Rumah untuk Rumah


Apakah Ada Rencana Untuk Memasarkan Rahfheoo Di Pasar Luar Negeri?


“Kebetulan balik lagi sama studi kelebihan dari instagram tuh menurut saya connecting people banget. Bila tau strateginya di instagram tuh bahkan seluruh dunia bisa melihat dengan semudah dia membuka handphone. Jadi kebetulan, Rafheoo ini untuk expand ke luar kita memang udah expand. Kita sudah punya consigment store di Singapura namanya Mega Fest dan kita juga ada beberapa reseller di Singapura. Tetapi poin utama saya untuk penjualan tetap di Indonesia, karena dari Indonesia sendiri pun saya merasa belum memanfaatkan potensi-potensi yang ada, potensi customer yang ada di Indonesia belum manfaatin banget. Menurut saya, kalau misalkan ada dari negara luar selain Singapura yang mau produk Rafheoo kenapa engga. Cuma tetap poin utamanya kita Indonesia dulu lah.”


 


Berbicara Tentang Pasar Lokal, Apa Planning Terdekat Yang Rafheoo Miliki Saat Ini Untuk Pasar Lokal?


“Kita ada launching produk baru sih. Kebetulan saya ada rekan public figure yang memang kita mau kolaborasi dengan dia, dan konsepnya saya pengen benar-benar ngasih lihat hal how to make Rafheoo, saya mau kasih lihat proses dari awal. Dari benang sampai jadi kain, sampai jadi tas dan dipakai sama public figure. Jadi kita ingin kolaborasi, kolaborasinya tuh benar-benar saya pengen konsepin banget lah. Akan ada di instagram, kalau youtube mungkin.”


 


Jika Kita Berposisi Sebagai Pebisnis Atau Pengusaha, Apakah Menguntungkan Berkolaborasi Dengan Orang Lain?


“Jelas, karena ketika kita berkolaborasi sama public figure yang jelas dia punya massa, fansnya dia lah yang jelas. Kita bisa “menjual” public figurenya untuk mendapatkan profit. Sebenarnya tujuannya ujung-ujungnya uang, ketika kita berkolaborasi pasti ada sesuatu yang ingin dituju.”


Pesan Dan Motivasi Untuk Para Entrepreneurs Di Luar Sana?


“Bagi teman-teman di luar sana yang ingin membangun sebuah brand sih saran dari saya itu keep survive aja. Karena brand itu tidak satu malam jadi dan harus ngerasain bagaimana susahnya membangun sebuah brand, susahnya itu sampai tidak bisa tidur, tidak bisa makan, ya harus cobain itu semua. Pokoknya jangan baru sekali produksi gagal sudah nyerah, terus saja. Karena saya juga di awal ya tidak langsung sukses seperti sekarang. Ada pengorbanan-pengorbanan yang saya lakukan untuk sejauh ini. Intinya tetap bertahan walaupun ada badai.”


IKUTI JUGA EVENT dengan para INSTAGRAM ENTREPRENEUR SUKSES, founder dari @guteninc dan @rafheoo yang akan berbagi ilmu mengenai bagaimana mengoptimalkan Instagram untuk sebuah bisnis.
Klik gambar dibawah ini untuk bergabung di Event spesial ini
ACE E-commerce Optimizing Instagram for Your Business



The post Berawal Dari Angan-Angan, Brand Bernama Rafheoo Lahir appeared first on Digital Entrepreneur Indonesia.